Minggu, 15 Februari 2015

Barisan nisan

Barisan Nisan
matahari terlalu pagi mengkhianati
pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang adalah
memperbesar kemungkinan
pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak
menemukan lagi satu pun
sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat menolak kembali
terisi
sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodorant
atau mungkin dalam limbah dan kotoran
atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14
inci
yang menawarkan hasrat pembangkangan ala
Levi’s dan Nokia
atau dalam 666 halaman hikayat para bigot dan
despot
yang menari ketika jelaga zarkot berangsur
menjadi kepulan hitam
berselubung Michael Jordan di pojokan pabrik-
pabrik ma’lun para
produsen kerak neraka berlapis statistik
pembenaran teatrikal super-mall
opera sabun panitia penyusun undang-undang
pemilu
yang mencoba membanyol tentang kekonyolan
demokrasi
yang rapi berdasi menopengi mutilasi pembebasan
dengan sengkarut argumen basi
tentang bagaimana menyamankan posisi
pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja
para sosok pembaharu dunia bernama PASAR
BEBAS dan perdagangan yang adil
untuk kemudian memperlakukan hidup seperti
AKABRI dan dikebiri matahari
terlalu pagi mengkhianati
dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi
dan fiksi berpagar konstitusi
menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga
pusara dari makam pahlawan tetangga
bernama Arjuna dan Manusia Laba-laba
pahlawan dari Cobain hingga Visius
dari berhala hingga anonimous bernama Burung
Garuda Pancasila
yang menampakkan diri pada hari setiap situs
menjadi sepejal bebatuan yang melayang
pada poros yang sejajar dengan tameng dan
pelindung wajah para penjaga makam Firaun
berkhakis
yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar
posisi setiap pojokan
bahkan di kakus umum dan selokan mencari target
konsumen dan homogenisasi kelayakan
maka setiap angka menjadi maka dan makna
ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong
senjata dengan ribuan unit SSK
untuk menjaga stabilitas bagi mereka yang akan
dinetralisir karena menolak membuang buku
Panton sebagai panduan kebenaran
sejak hitam dan putih hanya berlaku di hadapan
mata sinar xerox
menolak terasuki setan dan tuhan yang mewujud
dalam ocehan pencerahan kanon-kanon
degungan Big Mac dan es krim cone yang berseru,
“Beli! Beli! Beli! Konsumsi, konsumsi kami
sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha
para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”
oh… betapa menariknya dunia yang sudah pasti
menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan
lembaran kontrak asuransi
dengan janji pahala bertubi
dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang
hanya berarti dalam kala
ketika periode berkala para representatif di gedung
parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi
dan kekuatan hanya berlaku paska konsumsi
cairan suplemen, tonik dan para biggot bertemu
kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati
sederatan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau,
hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru
dan merah
dan putih
Oh betapa indahnya dunia yang berkalang fajar
poin-poin NAFTA
sehingga pion-pion negara yang berkubang di
belakang pembenaran stabilisasi nasional
menemukan pembenaran evolusi mereka dengan
berpetakan saluran-saluran pencerahan
para rock-stars yang lelah berkeluh-kesah
kala peluh mengering kasat di hadapan pasanggiri
lalat telat pasar
dan kilauan refleksi etalase dan display berhala-
berhala
berskala lebih taghut dari ampas neraka diantara
robekan surat rekomendasi negara donor
perancang undang-undang dan fakta-fakta anti-
teror
para arsitek bahasa penaklukan para pengagung
kebebasan
kebebasan yang hanya berlaku di hadapan layar
flatron kemajemukan ponsel demokrasi kotak suara
dan pluralisme gedung rubuh
Oh betapa agungnya dunia di hadapan barisan
nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati
Maka jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini
wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih
jangan izinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam
barisan
wahai bentangan seluloid dan narasi
dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu
anakku,
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa
pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
demi setiap huruf pada setiap fabel yang
kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku,
mentariku!
Jangan sedetik pun izinkan aku berhenti
menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang
kalam terhunus
lelap tertidur tanpa satu mata membuta tanpa pagi
berhenti mensponsori keinginan berbisa
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan
rembulan
bintang dan sabit
palu dan arit
bumi dan langit
lautan dan parit
dan sayap dan rakit
sehingga seluruh paruku sesak merakit setiap
pasak-pasak kemungkinan terbesar
memperbesar setiap kemungkinan pada ruang
ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak
menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata, “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali
terisi
Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk
mengkhianati..

3 komentar: