' Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta'
Yapp..tidak asing lagi sebait lyric lagu di atas bagi para pendaki bahkan sudah jadi lagu wajib mereka yang merasa seorang pendaki..(y)
Okeh disini saya bukan mau menjelaskan trik,atau tips cara mendaki atau cara mengatasi situasi hypotermia,cara membuat bivak saat survive..atau cara jadi leader yg hebat..( karena saya pribadi bukan pendaki )
Ini lebih ke curhat pribadi tentang ke egoisan saya,lebih ke selera saat menentukan keinginan yg kadang tak sesuai dengan keadaan..setumpuk argumen dalam sebuah rencana yg keluar dari buah khayalan dan pemikiran..yang hanya dapat terealisasikan saat 2 unsur ada dalam 1 tempat..unsur materi dan waktu..yg memang sudah menjadi alasan klasik penjegal dari sebuah keinginan.
Mendatangi sebuah tempat yg baru,
Menyebrangi satu pulau ke pulau lain,mendatangi suku suku terdalam,mengenal adat budaya setempat.keluar masuk rimba.mengikuti deras nya aliran sungai,memeluk curamnya tebing dan saat awan berada di bawah telapak kaki di saat berada di puncak tertinggi atau bahkan bermain dengan hiu menyelam di palung terdalam..yahh..sedikit khayalan liar saya yg sudah menjadi patri di otak yg entah kapan harus terealisasikan..memang terkesan egois dan memaksakan jika 2 unsur tadi tidak menompangnya..
Apakah itu butuh pendamping?? Yahh..selain teman.perjalanan akan lebih berasa bila ada seorang pendamping terlebih itu adalah pasangan sendiri..agar lebih mendidik.mengasah,dan menguji nyali..lebih jauh mengenali karakter,sikap dan sifat kita..agar dia tau apa yg saya berikan untuk dia bukan kemewahan materi..dan ini lah saya yg hanya ingin mengajaknya melihat indahnya INDONESIA..
bukan untuk saat ini
Tapi saatnya nanti ,Setiap jejak kaki ku kau injak di belakangku '
Pasti..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar